PAHLAWAN YANG HAMPIR TERLUPAKAN

 

Berbicara tentang pahlawan tentu kita sering mendengar sosok pahlawan seperti Superman, Gatotkaca ataupun Pahlawan bertopeng dalam film Shincan. Tapi untuk kali ini kita akan membicarakan tentang pahlawan yang bukan sembarang pahlawan. Karena pahlawan yang satu ini adalah pahlawan yang melawan penjajah ideolgi. Tidak segan-segan, musuh si pahlawan ini adalah penjajah ideologi.

Gemuruh takbir bersenandung dilangit Sidoarjo. Menyentuh hati para jamaah yang sedari pagi, tiada henti pula mereka menyebut kalimat-kalimat Tuhan. Lalu lalang kendaraan dan langkah kaki para jamaah yang memadati jalan, dengan semangat yang berkobar dibuktikan senyum riang. Hal ini menjadi saksi bahwa tiada tekanan dan tiada keterpaksaan mereka datang untuk berkumpul. Menyatukan satu tekad, satu tujuan yaitu untuk beristighosah, bermunajat bersama-sama memohon kepada Allah SWT agar Bangsa Indonesia selalu diberi keselamatan dan keberkahan.

Sidoarjo, 09 April 2017. Di stadion Kota Sidoarjo, dalam memperingati harlah ke-94 tahun NU, PWNU Jawa Timur mengadakan acara Istghotsah kubro. Dengan tema yang diusung “mengetuk pintu langit, menggapai Nurullah”, tak kurang dari 100 ribu jamaah dari berbagai kota di Jawa Timur menghadiri acara tersebut. Kepadatan di dalam maupun diluar stadion pun tak bisa dihindari, tentu hal ini menjadi pemandangan yang sangat mengagumkan. Mengingat akhir-akhir ini umat Islam di Indonesia khususnya sedang ditimpa isu tentang identitas.

Ketika banyak orang yang mempertanyakan tentang siapa yang memang benar-benar ingin mempertahankan NKRI setelah acara Istighosah tersebut, maka saya sebagai mahasiswa yang notabennya adalah pemikir akan saya jawab “bukan orang-orang yang hanya menggembor-gemborkan kalimat takbir, mengangkat bendera Islam setinggi-tingginya, lalu mengatasnamakan Tuhan untuk mengusir para penjajah neo-imperialisme,”. Mereka adalah orang-orang yang hanya akan merusak daripada persatuan bangsa kita, mereka adalah orang yang tak pernah mengenal arti toleransi dalam beragama, berbudaya dan berbangsa.

Diyakini atau tidak para jamaah berangkat melangkahkan kaki menuju tempat istighosah adalah murni dari kehendak hati. Bahwa tak ada sepeserpun uang pesangon yang diberikan kepada jamaah. Bahkan terdengar kisah ada salah seorang Ibu dari kota pesisir rela menjual ayamnya untuk pergi ke acara tersebut. Hal ini sebagai bukti bahwa hati yang berbicara untuk bertakbir, bukan mulut yang hanya menyebut-nyebut kalimat Tuhan akan tetapi hati berbicara uang.

Kembali lagi pada pertanyaan. Apakah ini yang disebut dengan jihad Lillahita’ala ? ataukah hanya sebuah gerakan atas kepentingan pribadi ? jawabannya tentu ada pada hati kalian semua.