Kemarin saya agak tercengang mendengar orasi Ketum PB, Gus Ab yang mendeklarasikan dan mengkampanyekan Jihad Jempol, sebuah term yang amat unik sekaligus (terkesan) relevan di era kekinian. Orasi yang merupakan salah satu dari rangkaian susunan acara pelantikan itu disampaikan dengan membara, penuh semangat dan membakar gairah kader-kader PMII, dengan durasi hampir dua puluh menit, Gus Ab mengajak kader PMII di seluruh dunia untuk berani secara kolektif memikirkan ulang sekaligus mengevaluasi jalan kerja teknologi, khususnya media sosial. Tak elak memang, PMII sedang darurat medium tersebut, dengan basis kader yang tumpah ruah dan (hampir) menjadi mayoritas, PMII masih terbata-bata dalam usaha adaptif dengan produk zaman atau kebudayaan kontemporer, sebab saya kira, kita terlalu sering terkena senyawa adiktif-nya sosmed, melainkan khilaf untuk adaptif.

PMII yang sedang dalam krisis ini dipaksa untuk memikirkan ulang efisiensi penggunaan sosial media sebagai upaya pelanggengan ideologi sekaligus penjaringan kader secara virtual, tak sekedar fi-dalil atau fi-kiran tindakan konvensional semata. PMII dalam ucap kang Ab “harus mendunia dan global…”, tetapi akan terbesut suatu pertanyaan sederhana? Apa sudah ada formulasi ontologis yang menggambarkan bahwa PMII ada di posisi yang tepat guna merealisasikan Jihad Jempol tersebut?

Ormek dan Arus Informasi Cepat Saji

Tak syak, selepas adanya sosial media, dengan diktum yang saya kutip dari Marshall McLuhan bahwa “Medium adalah pesan” menjadikan kita berpikir ulang tentang arus komunikasi yang kian dibanjiri dengan informasi cepat saji, cepat basi atau bahkan dalam bahasanya Jean Baudrillard acap kali dianggap sebagai Junk Picture (baca: Sampah visual). Generasi milenial adalah predator paling rakus dalam pengkonsumsian berbagai informasi tersebut secara masal, baik lewat kanal pemberitaan online, aplikasi sosial media tertentu maupun sekadar kibasan berita yang muncul di dinding maya.

Fenomena digitalisasi semacam ini, bagi Neil Postman, seorang pakar pendidikan dan kritikus teknologi (bahkan ia menyebut dirinya sendiri sebagai Teknophobi) dalam bukunya “Teknopoli” (2021) dianggap sebagai siasat kapitalisme tahap lanjut yang mencoba mengamankan status quo-nya dengan perangkap-perangkap semu teknologi. Memang, tahapan awal dari teknologi sangat bermanfaat bagi hajat hidup manusia, teknologi sangat membantu dan efisien dalam laju kemudahan komunikasi atau akses pengetahuan tertentu. Namun, dalam kasus jangka panjang, hadirnya teknologi sangat nisbi untuk dicengkram dalam kepentingan kapital segelintir orang, ini masalahnya. Bagi Postman, manusia di era kekinian sangat paradoks, dia seorang pembaca sekaligus pembagi, ia seorang kreator sekaligus konsumi. Imbas adanya teknologi, khususnya media sosial, manusia bisa berganti hirarki mata rantai kehidupan dipola-pola yang sangat beragam.

Kasus terbanyak dari adanya teknologi adalah pelumeran informasi (baca: over-information), Postman melihat hal ini sebagai bentuk ke-narsis-an yang menjadi-jadi. Tapi bukankah hal ini memang penting? Manusia dan organisasi yang dibentuknya pasti membutuhkan sarana atau medium publikasi guna memperlihatkan apa yang ia miliki dan tujuan mulia apa yang diembannya. Tapi, bukankah (akan) ada masa ketika semua hal diberitakan malah menjadikan manusia bingung untuk memverifikasi sesuatu secara detail dan benar?

Tak ubahnya organisasi yang lain, Ormek (Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus) membutuhkan peluru guna menembus batas-batas keter-ada-an. Ormek butuh diakui sebagai ruang yang berisi agen-agen moral, intelektual, politik sekaligus sosial. Dalam pengertian ini, Ormek tampil sebagai figur juru selamat bagi mahasiswa, agar identifikasi atas dirinya kian hakiki dan sahih. Makanya, pertiap tahun selalu ada program kaderisasi dan pejaringan besar-besaran mahasiswa baru, demi merayakan kebebasan sipil untuk membentuk ruang kemajuan.

Permasalahnnya, apakah Ormek bisa tetap tampil sebagai gambaran ideal dari aktivis-organisatoris yang dianggap erat kaitannya dengan medam tempur penggodokan kampus dan dunia akademik, bukankah imbas dari adanya arus informasi yang kaya raya ini sering membuat mahasiswa baru kebingungan, belum lagi ketika ada gambaran buruk/citra kurang sedap yang mengatasnamakan salah satu Ormek tersebut atas kilas balik isu yang diembannya? Faktanya, sosial media sebagai medium pewarta citra itu, tak memiliki opsi Hak Untuk Dilupakan, kadang kala satu permasalah bisa membongkah dan selamanya tersemat di tubuh Ormek tersebut, khusunya bagi PMII yang kita cintai (mungkin juga “hanya” untuk saat ini)….[]

Khayangan Dewata Sunyaruri (Lantai III-Cabang PMII Tulungagung), Juli, 2021.

Penulis: Sabilillah