Sang Aktivis PMII

Oleh : Setiawan Jodi Fakhar

Banten

Hari ini Mahbub sangat senang sekali, wajah nya tersenyum,  perasaan dalam hati nya gemetar, ingin sesekali Ia ceritakan kepada teman dekatnya, tentang perasaan yang penuh dengan kebahagiaan. ketika sekian lama berproses dalam menulis, hasil dalam menulis pun mengikutinya. Tidak menyangka memang, dan tidak ada niatan sebelumnya untuk mengikuti lomba tersebut, namun akhirnya sang aktivis muda kampus, menjadi sang juara. Mahbub berhasil mendapatkan penghargaan peserta terbaik sekaligus juara pertama dalam lomba menulis, yang diadakan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia PMII Kabupaten Tulungagung. Nama lombanya adalah Writing Challenge. Teman dan sahabatnya, terharu melihat prestasi yang diperolehnya. Di situlah nama nya mulai dikenal oleh banyak orang, baik di kalangan mahasiswa, organisasi, bahkan dosen sekalipun. Oh iya, Mahbub adalah Mahasiswa Universitas Islam Negeri Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Mahbub kuliah di Jurusan Hukum Tata Negara, Fakultas Syariah. Sekarang Mahbub sudah enam semester kuliah.

Pagi hari, udara sejuk menghiasi suasana kampus UIN, seperti biasanya kampus selalu ramai, terlihat mahasiswa berbondong-bondong masuk ke kelas untuk mengikuti mata kuliah, ketika jam perkuliahan. Selama kuliah, Mahbub enggan menjadi mahasiswa “Kupu-kupu” (kuliah pulang, kuliah pulang), karena pada saat itu, Ia  tinggal dikost dekat dengan kampus, sekitar 800 meter jauhnya. Pada awal kuliah, Mahbub belum begitu menjadi mahasiswa yang super sibuk, tapi kesibukannya adalah sering membaca buku dan menulis. Ketika pagi hari, jam 08.00 WIB. Ia sedang asyik membaca buku di kelas, sembari menunggu dosen masuk. Ada yang sibuk dengan gadget-nya, sibuk dengan rokok dan kopi nya, serta sibuk dengan curhatan masing-masing. Seketika Mahbub berbincang dengan sahabatnya “Ji, ikut organisasi yuk!” Ji, sapaan akrabnya, Fahruroji adalah teman dekat Mahbub yang paling sombong dan pemalas. Setiap hari Fahruroji menghabiskan waktu dengan main game online, jarang belajar sama sekali, apalagi membaca dan menulis.

“Organisasi apa Bub? Mendingan jadi Kupu-kupu ajalah, Bub. Ikut organisasi mah capek, sibuk rapat, inilah itulah” Tatapan mata nya fokus tertuju pada gadget-nya, rupanya Ia sangat asyik bermain game online. Sambil menunggu dosen masuk kelas. Suasana kelas sunyi, mereka semua pada sibuk dengan kegiatannya masing-masing, lebih memilih berinteraksi di media sosial, ketimbang berbicara dengan temanya. “Ituloh organisasi ekstra kampus, namanya PMII, organisasi nasional terbesar di Indonesia. Eh, tapi terserah lu aja deh, mau ikut atau nggak!, Gua sih mau ikut, lebih baik jadi Kura-Kura (kuliah rapat-kuliah rapat) daripada Kupu-Kupu apalagi Kupar-kupar (kuliah pacaran-kuliah pacaran). pokonya, ikut organisasi itu banyak manfaatnya, yang tidak bisa kita cari dan pelajari dikelas perkuliahan.” Mahbub menjawab sembari memegang buku bacaan. Seketika Mahbub sedang berkhayal, alangkah indahnya jika ikut organisasi, mengembangkan minat dan bakat, Ku disana. Aku akan belajar banyak, baik belajar keorganisasian atau mengasah bakat, Ku dalam menulis. Mahbub adalah mahasiswa yang rajin memang, setiap hari, Ia sering menulis pengalaman, perjalanan serta pelajaran dibuku hariannya. Memang sosoknya sangat dikagumi banyak orang. Apalagi ketika presentasi berlangsung, Ia tidak akan ketinggalan untuk bertanya, baik ke pemateri presentasi atau ke dosen sekalipun, dan Ia juga sering mengikuti acara seminar baik dikampus atau diluar kampus.

Siang hari jam 13.00 WIB, teriknya matahari yang membuat gerah, keringat bercucuran, ingin rasanya berteduh di bawah pepohonan yang rindang. Seusai mata kuliah, Mahbub dan Fahruroji bergegas menuju Masjid untuk melaksanakan sholat Dhuhur, setelah itu mereka menuju stand pendaftaran organisasi eksternal PMII.  Banyak organisasi-organisasi lain yang buka stand, di halaman yang sudah di sediakan oleh pihak kampus. “Ji, yuk daftar organisasi PMII!” Sebelum pulang kekosan, mereka daftar terlebih dahulu untuk mengikuti organisasi PMII, karena dua hari lagi ditutup pendaftarannya. “Yaudah deh, gua mah ngikut aja Bub, yang penting ada temen”. Setelah di stand PMII, Mahbub menanyakan perihal syarat apa saja yang harus mereka  kumpulkan. Kebetulan, di stand PMII ada Kak Hikmat, Ia adalah ketua umum PMII Rayon Syariah. “Jangan lupa yaa, persyaratan yang harus dibawa, oh iya nanti pengkaderannya tanggal 15-17 Maret 2019, berangkat dari kampusnya tanggal 15 Maret jam 08.00 WIB, jangan sampai telat, kalo telat terpaksa di tinggalin panitia”. Sontak pernyataan Kak Hikmat, kepada Mahbub dan Fahruroji. “Iya Kak, terimakasih banyak ya”.  Setelah selesai daftar di stand, mereka bergegas pulang menuju kosan, mereka mengumpulkan syarat apa saja yang harus di kumpulkan. Keesokan harinya Mereka mengikuti teknical meeting, sekaligus interview, mereka di Tanya tentang keseriusannya mengikuti organisasi PMII, dan disuruh menghafal mars PMII. Ketika malam hari, Mahbub terus menerus menghafal mars PMII di kosannya, sampai larut malam, suasana malam itu sangat sunyi, suara jangkrik saja yang terdengar dan suara nyamuk yang mengiang-ngiang di telinga. Ia sadar besok pengkaderan PMII, MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru). Berbeda dengan Fahruroji, Ia sudah tidur lebih dulu, setelah main game online-nya.

Ramai pagi hari itu, banyak yang mengikuti MAPABA PMII, sekitar 120 orang, diberangkatkan menuju lokasi pengkaderan menggunakan mobil truk besar. Ketika saat MAPABA berlangsung, para peserta dikumpulkan oleh panitia koordinator lapangan (Korlap), korlap menyuruh kepada peserta siapa yang bisa menyanyikan mars PMII? “Saya Ka” Dengan gagah dan beraninya, Mahbub bergegas kedepan menghadapi peserta, Ia sudah paham betul menyanyikan Mars PMII, karena sudah dari jauh-jauh hari, Ia menghafal. Mahbub adalah sosok yang paling kritis diantara teman-temannya yang lain, ketika korlap memberikan konsekuensi, “Bagi siapa saja yang tidak bisa menyanyikan mars PMII, maka saya akan menghukum, laki-laki push up sepuluh, dan perempuan bending sepuluh.” Mahbub langsung membantah pernyataan korlap “Saya tidak setuju, kalau kami tidak bisa menyanyikan mars, lalu push-up, karena tidak ada hubungannya dengan mars, disisi lain, panitia tidak mencantumkan hukuman-hukuman, selain itu kami sudah tertib melaksanakan apa saja yang dilarang oleh panitia, seperti tidak membawa hp, rokok, dan lain sebagainya, apakah temen temen setuju kalau kita tidak mau di push up.” Suasana hening, tidak ada yang berbicara kecuali Mahbub, suaranya lantang berapi-api melawan perkeroncoan yang dilakukan panitia korlap, sontak teman-teman peserta menjawab ucapan Mahbub. “Setuju!” Korlap tidak bisa menjawab pernyataan Mahbub, serta kewalahan dengan kekritisan Mahbub yang selalu melawan, juga berhasil mempengaruhi teman-temannya agar satu suara.

Tiga hari lamanya pengkaderan, banyak hal yang harus Mahbub catat dan tuliskan, suasana haru ketika dibaiat, dan akhirnya mereka resmi menjadi kader PMII. Setelah selesai pengkaderan, Mahbub dan Fahruroji main ke Sekretariat organisasi PMII Rayon Syariah, disana banyak sahabat-sahabat mereka, ada pengurus dan juga senior. Namun berbeda apa yang diharapkan sebelumnya. Mahbub menginginkan ketika sudah bergabung dengan organisasi, ingin belajar bareng diskusi bareng, kajian dan lain sebagainya, tapi sahabat-sahabatnya lebih asyik main game online. Tapi, Mahbub masih tetap rajin membaca dan menulis, walaupun teman temannya berbeda dengan Mahbub. Perasaan yang menjengkelkan memang, ketika melihat teman-temanya selalu bermain game online, ingin rasanya membantingkan handphone-nya. Agar mereka sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan, memang ada saatnya otak perlu hiburan dan refreshing. “Bub, jangan baca mulu, pusing, kebanyakan teori nanti lu stress!” Sontak Fahruroji. Namun, ketua umum mencoba meredam pernyataan Fahruroji, “Sudah Ji, masing masing aja. Jangan ngurusin kehidupan orang lain, Lu juga kalau dibalikin sama Mahbub, apa gunanya main game online, Cuma ngabisin duit orang tua?” Fahruroji terdiam, dengan pernyataan Kak Hikmat sebagai ketua umum. Fahruroji masih tetap asyik dengan game online-nya, dan Mahbub masih tetap membaca buku Bumi Manusia karya Pramoedya Anantatoer.

Keesokan nya, di siang hari, ada pemberitahuan perihal lomba menulis, yang di adakan oleh PC PMII Kabupaten Tulungagung nama lombanya adalah Writing Chalenge, disitu tertera tema nya pertama Pengalaman ber-PMII menyongsong Era Industri 4.0 kedua Millenial Menulis dan semangat pemilu raya 17 April. Batas pengumpulan karya tanggal 1 April 2019. Dengan perasaan dan keyakinan yang tinggi, Mahbub bersemangat untuk mengikuti lomba tersebut, tidak memikirkan dan ambisi untuk menjadi sang juara, yang terpenting pengalamannya. Mahbub menanyakan kepada panitia “Assalamualaikum Bat, saya mau menanyakan perihal lomba menulis, apakah boleh saya menulis selain artikel, essai. Saya mau menulis cerpen dengan kata lebih dari 700?” Dan panitia menjawab “Waalaikumsalam, oh iya Bat, boleh. Kalau bisa sih, jangan sampai lebih batas yang sudah ditentukan oleh panitia!”

    Setelah itu, Mahbub menulis cerpen dengan judul Mahbub Sang Aktivis Kampus, sekian lama Mahbub menuliskan cerpennya, setiap hari Ia selalu menulis dan mengoreksinya, bahkan meminta bimbingan kepada yang ahli membuat cerpen, agar ketika dikirim, layak tulisannya mengikuti lomba. Mahbub mengumpulkan tulisannya pada tanggal 29 Maret 2019, hingga akhirnya diumumkan pada tanggal 10 April 2019, nama Mahbub terlihat berada diurutan pertama, mahbub menjuari lomba Writing Challenge. Ia berhasil menjuarai lomba tersebut, karena gigih, belajar. Baik membaca dan menulis. Suasana haru, dan perasaan yang amat sangat senang yang dirasakan oleh Mahbub. Hingga akhirnya, sahabat dan teman dekatnya memuji abis-abisan dengan prestasi yang telah dicapai oleh Mahbub. Fahruroji mulai rajin membaca dan menulis, belajar langsung dengan Mahbub. Namanya mulai dikenal, baik di kampus, organisasi, bahkan dosen sekalipun. “Rajin lah membaca dan menulis, karena ketika kita sering membaca dan menulis, maka hilanglah kekurangan yang ada dalam diri kita” Gol A Gong.  Kalau mau menjadi orang sukses, cerdas, bernilai di mata orang lain maka lakukanlah “Baca, Tulis, Belajar, Mengajar” Sultan Maulana Hasanuddin.